Sabtu, 18 Agustus 2012

MAKALAH BELAJAR PEMBELAJARAN

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan nikmat dan karuniaanya di setiap helaan nafas yang tak terhitung jumlahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.
            Shalawat serta salam penulis limpahkan kepada teladan dan guru terbaik sepanjang zaman, Muhammad saw, semoga dapat meneladani dan terus berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik, menjadi insan yang kamil.
            Terima kasih penulis sampaikan kepada :
  1. Ahlul Irfan, S.Pd, MM,M.si. selaku doosen pembimbing mata kuliah Belajar dan Pembelajaran
  2. Orang tua dan Teman – Teman yang telah membantu terselesainya makalah ini.

Penulis menyadari tugas ini masih jauh akan kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik pembaca yang sifatnya membangun  sangat penulis harapkan.


     
Bekasi, Juni 2012

Penulis






































1.      PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK

·         Pada tahap 0 – 7 tahun ( 7 thn pertama )
·         Pada tahap 8 – 14 tahun ( 7 thn kedua )
·         Pada tahap 15 – 21 tahun ( 7 thn ketiga )

Tahapan
Pertumbuhan
Perkembangan
Implikasi dalam pembelajaran
·      0 – 7 tahun
1.     Pendengaran

2.     Penglihatan

3.     Perabaan
4.     Fisik


5.     Bertambahnya tinggi badan, berat badan.


6.     Aktif


7.     Belum begitu terampil















1.        Anak mulai mengenal bermain
















2.        Anak pada masa – masa meniru.





















3.    Anak mengenal hal – hal yang sifatnya kongrit.



4.    Anak mulai berfikir kritis.





5.    Anak mulai berimajinasi.
6.    Anak cenderung mengekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka
7.    Anak mulai meningkat kemampuan berbahasanya



















8.        Anak sudah mampu membedakan pria dan wanita yang dilihat dari penampilan yang berbeda, pakaian yang berbeda dan rambut yang berbeda.

9.    Munculnya gejala egosentrisme pada anak, masih terbatasnya pemahaman anak terhadap lingkungan yang ia respon.


·         Didengarkan adzan di telinganya.



·         Pemberian ASI pada anak.






v Kondisikan lingkungan bermainnya secara kondusif.

v Pilihkan teman bermain untuk anak.

v Awasi dan bimbing anak saat bermain.

v Berikan media bermain yang mendidik.

v Arahkan anak untuk bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain.


·      Bisa diarahkan dengan cara Bermain Peran ( Role Playing ).

·      Beri teladan yang baik untuk anak, dalam hal apapun sehingga anak akan meniru hal – hal yang baik pula.

v  Berikan contoh dan kita jelaskan mana saja hal – hal yang baik dan mana saja hal – hal yang tidak baik.

v  Diajarkan dasar – dasar agama.




Ø  Pada saat mengenalkan sesuatu pada anak, tunjukan dengan hal – hal yang sifatnya nyata ( real ), ada buktinya.

·           Banyak memberi berbagai pertanyaan pada anak, sehingga mimicu keingintahuan anak.



Ø Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak.
Ø Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak.
Ø Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan kesempatan dalam banyak hal.
Ø Berikan kesempatan dan dorongan maka untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri.
Ø Doronglah anak agar mau mencoba mendapatkan ketrampilan dalam berbagai tingkah laku.
Ø Tentukan batas-batas tingkah laku yang diperbolehkan oleh lingkungannya.
Ø Kagumilah apa yang dilakukan anak.
Ø Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan hangat dan dengan ketulusan hati.






















·           8 – 14 tahun
1.         Fisik anak mulai kelihatan sesuai dengan jenis kelaminnya masing – masing.
2.         Pertumbuhan otot – otot pada anak mulai terbentuk
3.         Jaringan lemak dibawah kulit berkurang.
4.         Lebar badan mulai bertambah ( gemuk )
5.         Pertumbuhan tinggi badan usia 8 tahun sesuai usia 7 tahun + 5 cm, usia 9 tahun tinggi badan sesuai usia 8 tahun + 5 cm, dan seterusnya sampai umur 14 tahun.














8.     Pada anak laki-laki, perubahan fisik pubertas dimulai lebih lambat daripada anak perempuan, sekitar usia 12 atau 13 tahun.


















9.     Pada anak perempuan, perubahan fisik pubertas dimulai pada usia sekitar 10 atau 11 tahun.
1.    Anak mulai cakap
2.    Baru mampu berfikir sistematis mengenai benda – benda dan peristiwa – peristiwa yang konkret.
3.    Mulai bisa mengoordinasikan pemikiran dan idenya kedalam pemikiranny
4.    Anak memahami aspek – aspek kumulatif materi, seperti volume dan jumlah.
5.    Pemahaman penambahan golongan benda.
6.    Pemahaman Penambahan pelipatgandaan golongan benda.
7.    Menginjak puberta, anak mulai bisa berfikir abstrak
8.    Anak menjelang dan menginjak masa remaja dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran yang sifatnya konkret, atau dengan kata lain anak sudah mampu berfikir abstrak.
9.    Mampu berfikir hipotesis dalam hal pemecahan masalah.



10.             Pada anak laki-laki masa puber akan ditandai dengan suara yang semakin nge-bass (membesar), tumbuhnya rambut di daerah ketiak dan kelamin, munculnya kumis dan janggut, munculnya jakun pada tenggorokan dan timbulnya perasaan tertarik pada lawan jenis. Mimpi basah yang merupakan ciri-ciri dari masa puber juga akan dialami pada anak laki-laki.




11.             Tanda pertama pubertas adalah berkembangnya payudara, lalu rambut mulai tumbuh di daerah ketiak dan pubis. Rambut kaki menebal dan bentuk tubuh berubah, dengan penambahan lemak tubuh. Rambut dan kulit mulai berminyak, yang dapat menimbulkan jerawat. Akhirnya menstruasi (haid) dimulai. Anak perempuan merasa dapat merasa lelah, serta memiliki suasana hati yang berubah-ubah, dan perasaan sensitif.
12.             Anak perempuan mencapai setengah tinggi dewasanya tepat sebelum ulang tahun kedua mereka; pertumbuhan cepat saat pubertas dimulai dua tahun lebih cepat pada anak perempuan daripada laki-laki
13.             Daerah di sekitar puting membesar dengan sejumlah kecil jaringan payudara di dalamnya. Pelvis dan pinggul melebar dan pinggang menyempit akibat penyebaran lemak yang dipengaruhi oleh hormon wanita.















































Pada saat anak sudah mengijak masa pubertas sebaiknya :
1.      Jangan melarang keinginan saat ia mulai menyenangi lawan jenis. Sebagai orang tua, Anda wajib mendekati preferensi seksual si anak, sehingga jika ada penyimpangan disfungsi psikoseksual, dapat sedini mungkin diatasi.
2.       Jangan terlalu protektif karena jika terlalu dilarang, Anda tidak tahu dengan siapa anak Anda berteman. Semakin dilarang mereka akan semakin membangkang. Oleh karena itu, pantau teman-temannya dan usahakan kegiatan mereka berada dalam lingkungan yang terkontrol.


3.       Terapkan hipnosis. Saat sedang rileks, dekati anak, lalu mulai memeluknya. Setelah itu bicarakan hal-hal yang ringan dan menarik hatinya. Jika dia mulai tersenyum dan responsif, mulai rendahkan suara Anda dan sampaikan nasihat atau pesan yang produktif.

·      15 – 21 tahun

1.    Pertumbuhan fisik relatif berkurang dengan kata lain tidak sepesat dalam masa remaja awal.
2.    Bagi pria pada usia 20 th dan wanita 18 th keadaan tinggi badan mengalami pertumbuhan yang lambat.
3.    Emosional
4.    Pada laki – laki, otot – otot berkembang lebih besar dan menonjol.
5.    Jantung tumbuh pesat selama masa remaja, pada usia 17 atau 18 tahun, beratnya dua belas kali lebih berat pada waktu lahir
6.    Kapasitas paru-paru anak perempuan hampir matang pada usia17 thn,dan anak laki – laki mencapai tingkat kematangan baru beberapa tahun kemudian, satu atau dua tahun setelah usia anak perempuan.

7.    Intelektual

1.      Citra diri dan sikap pandang yang lebih realistis.
2.      Menghadapi masalahnya secara lebih matang.
3.      Mereka tidak lagi menampakkan gejala-gejala strom and stress sehingga muncullah suatu ketenangan dalam diri mereka.
4.      Memperoleh kebebasan emosional
5.      Mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin
6.      Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri
7.      Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
8.      Terikat erat dengan kelompoknya







Pada umur 19 – 21 tahun :
1.        Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
2.        Mulai menyadari akan realitas
3.       Sikapnya mulai jelas tentang hidup
4.      Mulai nampak bakat dan minatnya
5.       Memantapkan identitas
6.      Mengembangkan rencana kehidupan pribadi


1.      Berikan  sex education,karena anak remaja  mempunyai libido tinggi dan harus diberikan pemahaman tentang sex secara positif. Agar tidak terjerumus ke hal – hal negatif, seperti sex bebas.
2.      Secara praktisi anak dikenalkan dengan cara berorganisasi,dikenalkan dengan sosialisasi dan perbedaan kepentingan individu,sehingga akan muncul kesiapan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya,lebih baik lagi ketika anak diberikan materi tujuan dalam kehidupan,sehingga arah dari cita - cita atau impian menjadi jelas.
3.      anak dikenalkan dengan masalah2 yang sering muncul dalam kehidupan nyata dan penyelesaian – penyelesaiannya dengan bijaksana.
4.      anak dikenalkan tentang keberanian mengambil keputusan dalam memecahkan berbagai masalah yang ada.






























2.      TEORI BEHAVIORISME

Teori Behaviorisme adalah teori belajar yang menekankan pada hasil belajar dan tidak memperhatikan pada proses berpikir siswa. Menurut teori ini, belajar dipandang sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigma Stimulus-Respon, yaitu suatu proses yang memberikan respon tertentu terhadap stimulus yang datang dari luar. Proses Stimulus-Respon (SR) yaitu dorongan,rangsangan, respon serta penguatan. Ada beberapa jenis teori yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh Behaviorisme yaitu Teori Pengkondisian Klasikal dari Pavlov, serta Teori Connectionism dari Thornaike, Teori Operant Conditioning dari B.F.Skinner, teori Watson, Teori Clark Hull, dan juga Teori Edwin Gutrei. Teori ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari teori ini adalah teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa dan teori ini juga membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar sedangkan kelemahan dari teori ini adalah proses pembelajaran berpusat pada guru dan siswa hanya mendengarkan penjelasan dan menghapal saja sehingga siswa menjadi tidak aktif dan tidak dapat berkembang. Teori ini digunakan disetiap jenjang pendidikan untuk melaksanakan proses pembelajaran dari dulu sampai sekarang.



Classical Conditioning
Operant Conditioning
Connectionisme
Pencetus :
Tokoh – tokohnya

Ivan Pavlov pada tahun 1849 – 1936

Teori pelaziman klasik/ Clasical Condition adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu.


Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan.

Burrhus Frederic Skinner dimulai pada tahun 1904 – 1990

Dalam Operant Conditioning respon terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh efek yang ditimbulkan oleh efek yang ditimbulkan oleh rainforecer.

Rainforcer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meninggkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.




Dikembangkan oleh Edward L. Thorndike ( 1874 – 1949 )
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”.
Thorndike menemukan hukum-hukum :

1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.
2. Hukum latihan
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.
3. Hukum akibat
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.

Sudut pandang
1.    Pandangannya yang paling penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaian-rangkaian refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja.
2.    Pandangan yang sebenarnya bermula dari seorang tokoh Rusia lain bernama I.M. Sechenov. I.M. yang banyak mempengaruhi Pavlov ini, kemudian dijadikan dasar pandangan pula oleh J.B. Watson di Amerika Serikat dalam aliran Behaviorismenya setelah mendapat perubahan-perubahan seperlunya.
1.    Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur.
2.    Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
1.    Thorndike mengungkapkan bahwa organisme itu sebagai mekanismus yang hanya bertindak jika ada perangsang dan situasi yang mempengaruhinya. Dalam dunia pendidikan Law of Effect ini terjadi pada tindakan seseoranng dalam memberikan punishment atau reward . Akan tetapi dalam dunia pendidikan menurut Thorndike yang lebih memegang peranan adalah pemberian reward dan inilah yang lebih dianjurkan.
2.    Teori Thorndike ini biasanya juga disebut teori koneksionisme karena dalam hukum belajarnya ada “Law of Effect” yang mana disini terjadi hubungan antara tingkah laku atau respon yang dipengaruhi oleh stimulus dan situasi dan tingkah laku tersebut mendatangkan hasilnya(Effect).

Percobaan
Eksperiment Pavlov yaitu dengan menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan – hubungan antara Conditioned stimulus ( CS ), unconditioned stimulus ( UCS ), conditioned response ( CR ), dan Unconditioned response ( UCR ).

CS => Rangsangan yang mampu mendatangkan respons yang dipelajari.

CR => Respons yang dipelajari itu sendiri

UCS => Rangsangan yang menimbulkan respons yang tidak dipelajari

UCR => Respons yang tidak dipelajari






Penjelasan :

a.          Sebelum eksperimen

1.         Ketika bel dibunyikan respons anjing tersebut tidak ada.
2.         Ketika diberikan makanan, respons anjing tersebut air liur keluar ( UCR )


b.         Pada saat eksperiment

·           Bunyi bel ( CS ) diiringi  dengan pemberian makanan ( UCS ).
(CS + UCS)

c.     Setelah Eksperiment

·           Bunyi bel tanpa pemberian makanan.
( CS – USC ), maka otomatis respon anjing yaitu mengeluarkan air liurnya.


Skinner mengadakan eksperimen dengan menggunakan kotak yang didalamnya terdapat pengungkit, pemampung makanan, lampu, lantai dengan grill yang dialiri listrik (dikenal dengan nama Skinner box). Skinner menggunakan tikus lapar sebagai hewan percobaannya.
Eksperiment Thorndike yaitu menggunakan hewan – hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar.

Penjelasan :
1.        Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan di tata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperolah makanan yang tersedia di depan sangkar tadi.
2.        Keadaan bagian dalam sangkar yang disebut puzzel box ( peti teka – teki ) itu merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan yang ada dimuka pintu.
3.        Mula – mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat, dan berlari – larian, namun gagal membuka pintu untuk memperoleh makanan yang ada didepannya.sampai akhirnya secara kebetulan kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut.

Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi.

Jadi, apabila stimulus yang diadakan ( CS ) selalu disertai dengan stimulus punguat ( UCS ), stimulus tdi ( CS ) cepat atau rambat akhirnya yang menimbulkan respons atau perubahan yang kita kehendaki yang dalam hal ini CR.

Setiap respon yang diikuti dengan penguatan (reward atau reinforcing stimuli) cenderung akan diulang kembali.


Reward atau reinforcing stimuli akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon.

Berdasarkan eksperiment diatas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons.


Dengan hukum hukumnya :
1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)
2. Hukum latihan
3. Hukum akibat
Inti Teori
Belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan antara stimulus dan respons.

Dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar.

Belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons.
Fenomena tersebut melibatkan reinforcement / penguatan.
Belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons. Fenomena tingkah laku belajar selalu melibatkan satisfaction/ kepuasan.
Kelemahan
Kelemahan dari teori conditioning ini adalah, teori ini mengangaap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis, keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya. Peranan latihan atau kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tidak tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu manusia tidak semata-mata tergantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukannya.

Teori conditioning ini memang tepat kalau kita hubungkan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal-hal belajar tertentu. Umpamanya dalam belajar yang mengenai skills (kecekatan-kecekatan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada anak kecil.
Proses belajar bersifat otomatis-mekanis, padahal setiap individu memiliki self direction
dan self control yang bersifat kognitif, sehingga ia bisamenolak untuk merespon jika ia tidak menghendakinya.

Proses pembelajaran manusia dianalogikan dengan perilaku hewan itusangat sulit diterima, mengingat terdapat perbedaan karakter fisik dan psikis dalam individu manusia dan hewan. Manusia memiliki karakteristik yang unik

1.   Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak bagi manusia.
2.   Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus menerus.
3.   Karena belajar berlangsung secara mekanistis, maka penegertian tidak dipandangnya sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur yang pokok dalam belajar.
4.   Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.

Aplikasi teori dalam pembelajaran

Contohnya yaitu pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang ditunjukkan gurunya.
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:-

1.          Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
2.          Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salahdibetulkan dan jika benar diperkuat.
3.          Materi pelajaran digunakan sistem modul.Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
4.          Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
5.          Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
6.          Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
7.          Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
8.          Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu).
9.          Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkatmencapai tujuan.
10.      Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan Shaping.
11.      Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
12.      Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
13.      Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda.

1.        Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.
2.        Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.
3.        Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga memberikan motivasi proses belajar mengajar.







3.      CARA MEMBUAT ANAK RAJIN BELAJAR :

·               Terlibat dalam kegiatan anak

Saat si kecil tahu orangtuanya tertarik pada apa yang dilakukannya, anak akan bersemangat untuk mengajak Anda mengikuti seluruh prosesnya. Anak juga akan semakin terpacu untuk memberi hasil yang terbaik. Menjadi penonton saat anak bertanding di laga sepak bola antar sekolah, misalnya, membuat anak menyadari Anda selalu hadir mendampinginya di berbagai kesempatan untuk memberi semangat.

·               Bantu anak merancang strategi
Si kecil belum paham betul bagaimana caranya membangun skala prioritas serta mencari solusi untuk berbagai masalah yang dihadapi. Terlebih saat anak mulai mampu menetapkan target prestasi yang ingin diraihnya. Bantu anak menyusun rencana untuk meraih target, serta mempersiapkannya dalam menghadapi rintangan.
·               Orangtua senang membaca, anak juga
Sudah masuk sekolah, kok membacanya belum lancar juga? Anak mungkin belum menemukan asyiknya membaca, karena tidak pernah melihat orangtuanya membaca buku. Anak-anak yang tidak pernah dibacakan dongeng sebelum tidur juga cenderung lambat dalam belajar membaca. Jika Anda ingin mengajarkan anak untuk lancar membaca, tunjukkan bahwa Anda juga senang membaca. Bacalah koran, majalah, atau apapun dengan suara keras agar si kecil tahu betapa asyiknya membaca.
·               Rayakan keberhasilannya
Saat anak berhasil mendapat prestasi memuaskan, jangan segan-segan untuk memujinya. Sekecil apapun keberhasilan yang dilakukannya –bahkan sekedar membereskan tempat tidur sampai rapi- lontarkan pujian pada anak. Ingin merayakannya dengan sesuatu yang spesial juga ide bagus. Tak perlu perayaan semarak. Makan malam dengan menu favoritnya juga cukup membuat buah hati Anda merasa spesial.
·               Belajar sambil bermain
Setiap orang, anak-anak maupun dewasa, memiliki metode belajar yang berbeda. Khusus bagi anak, sediakan metode belajar sambil bermain yang membuatnya tidak cepat bosan. Mengajarkan bahasa Inggris lewat film kartun, misalnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar